03 Juni 2011

KOMUNIKASI DARI MAXWELL

Ada tulisan dalam buku kecil John C. Maxwell sbb: Tanpa Komunikasi Maka Anda Akan Menempuh Perjalanan Sendirian.

Dengan komunikasi, Sang Pemimpin harus dapat membagi pengetahuan serta gagasan-gagasannya untuk menciptakan dorongan/ desakan serta antusiasme pada diri orang lain.

Jika seseorang tak dapat menyampaikan pesan dengan jelas dan tak dapat memotivasi orang lain untuk menindak lanjutinya, maka, bahkan memiliki pesan untuk disampaikan pun menjadi percuma.

Orang tidak akan mengikuti Anda jika mereka tidak tahu apa yang Anda inginkan atau kemana Anda akan menuju (visi Anda). Caranya bagaimana? Anda akan dapat menyampaikan pesan tsb sebagai seorang komunikator yang efektif jika mengikuti 4 kebenaran dasar sbb:

Sederhanakan Pesan Anda.
Lupakanlah upaya mengesankan orang lain dengan kata-kata atau kalimat yang canggih. Kunci komunikasi yang efektif adalah kesederhanaan. Misalnya dalam berpidato, bagaimana cara melakukannya agar berhasil?
Siapkanlah pembukaan yang bersemangat, yang menarik perhatian seluruh hadirin. Lalu siapkanlah rangkuman serta penutupan yang dramatis, yang akan membuat orang jadi ingin bertindak. Ingatlah, jangan bertele-tele di bagian tengahnya.

Perhatikanlah Lawan Bicara Anda.
Tidak mungkin terjadi komunikasi yang efektif tanpa Anda mengetahui apa pun mengenai lawan bicara Anda, baik secara individu atau secara kelompok. Tanyakanlah pada diri sendiri: Siapakah pendengar saya ini? Apa sajakah pertanyaan-pertanyaan mereka? Apakah yang perlu dicapai? Dll. Jadi berorientasilah pada pendengar. Orang bisa percaya pada pembicara kalau si komunikator tsb percaya pada orang juga.

Tunjukkanlah Kebenaran (Yang dipercaya).
Akan terjadi komunikasi yang hebat bila didahului adanya Kredibilitas. Ada 2 cara untuk menyampaikan kredibilitas. Pertama, percayalah pada yang Anda ucapkan. Anda sendiri harus mempunyai semangat keyakinan yang tinggi terhadap hal itu. Kedua, amalkanlah ucapan Anda. Maka biasakanlah melaksanakan apa yang Anda ucapkan atau janjikan.

Tariklah Respons.
Ketika sedang berkomunikasi janganlah lupa bahwa sasaran dari komunikasi adalah tindakan. Jika Anda hanya melemparkan beberapa informasi kepada orang lain, Anda bukan sedang berkomunikasi. Tapi Anda harus memberi mereka sesuatu untuk Dirasakan, Diingat dan Dilakukan.

Akhirnya tanyakanlah diri Anda, apakah komunikasi sudah menjadi prioritas Anda? Jika dalam hati Anda tahu bahwa visi Anda sangat hebat dan menjanjikan, namun orang tetap tidak percaya, mungkin masalahnya adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif. Maka untuk meningkatkan penerapannya, lakukanlah hal berikut:

1.Sampaikan pesan Anda sejelas mungkin. Ingatlah selalu akan kesederha- naan, kejelasan dan kejelasan serta kejelasan!
2.Fokuskan kembali perhatian Anda. Tujukan pada kebutuhan mereka, bukan Anda. Perlakukanlah orang lain apa adanya. Terimalah kritik orang lain dengan lapang dada bila mereka melihat Anda belum melakukan apa yang Anda ucapkan.
3.Hidupkanlah pesan Anda. Pergunakanlah EWP (emotional word pictures > lihat artikel Arahan diri ... Komunikasi efektif 1).
4.Latihlah tiap hari. Jika ada kesempatan yang baik dan memungkinkan, sebaiknya dengan sadar Anda selalu manfaatkan untuk berlatih bicara dengan prinsip-prinsip berkomunikasi tsb.

.

02 Juni 2011

8 Tahap dalam Melaksanakan Yoga

Asta Angga Yoga : delapan tahapan dalam usaha penyatuan diri dengan Tuhan. Orang yang mengabdikan hidupnya dalam usaha untuk manunggal dengan Tuhan dapat disebut sebagai seorang Yogi.

Urutan tahapannya sebagai berikut:
Yama > ahimsa, satya, asteya, brahmacharya, aparigraha

Niyama > sancha, santosa, tapa, swadhyaya, iswara pranidhana

Asana > sikap badan tertentu yang memudahkan konsentrasi

Pranayama > penguasaan/ pengaturan tenaga hidup

Pratyahara > proses memalingkan perhatian, pikiran dan kesadaran ke dalam bathin.

Dharana > konsentrasi manas/ pikiran pada suatu obyek tanpa penyimpangan (diistilahkan juga Ekagratha). Dimulai dengan obyek-obyek yang baik yang cukup disenangi (karena sangat sulit berkonsentrasi pada obyek yang tidak kita disenangi).

Dhyana > sesungguhnya berarti disiplin dalam Dharana. Yang mana obyek meditasi adalah gambaran wujud-wujud Tuhan dan nama-nama Tuhan (sangat sulit langsung berdhyana pada Tuhan yang tanpa wujud/bentuk > Nirgunam Brahman. Kalau sudah mampu demikian, adalah bagus sekali).

Samadhi > puncak dari meditasi, bebas dari segala pikiran, perasaan dan keinginan. Kesadaran terpusat pada kenyataan diri yang sejati, manunggal dengan obyek meditasinya hingga tidak ada lagi dualitas. Tidak ada lagi siapa yang bermeditasi dan obyek meditasinya, lebur menyatu.

Namun tentang Yama dan Niyama, didalam Sarasamuccaya dijabarkan sbb:
Brata yang disebut Yama rinciannya adalah: anrsangsya, ksama, satya, ahimsa, dama, arjawa, priti, prasada, madhurya dan mardawa. (Pasal 259).

Brata yang disebut Niyama rinciannya adalah: dana, ijya, tapa, dhyana, swadhyaya, upasthaningraha, brata, upasawa, mona dan snana. (Pasal 260).

Catatan diatas bagi saya sendiri masih perlu penjelasan atas perbedaan uraian Yama dan Niyama tsb. Maka akan saya edit lagi bila saya temukan sumber lain agar memperjelas pengertian saya, katakanlah demikian. (Atau Anda mungkin bisa lebih menjelaskan dengan menuliskannya melalui ruang komentar/ comments yang tersedia di bawah ini. Terima kasih).

.

31 Mei 2011

Panca Maya Kosa

Ini merupakan lapisan-lapisan yang bersifat Maya. Seseorang hendaknya bisa membebaskan diri dari hal ini secara bertahap untuk mencapai bersatunya Atma dengan Paramatman.

Membebaskan diri bukan berarti melepaskan diri dari hal tersebut. Kebebasan disini berarti Sang Diri menjadi kusir dan mengendalikan lapisan-lapisan itu.

Kelima lapisan Maya itu sbb:

Anna maya kosa, lapisan yang terdiri dari Makanan. Badan fisik yang terbuat dari zat-zat dari alam fisik. (Badan tumbuh karena tumpukan lapisan-lapisan sari makanan).

Prana maya kosa, lapisan yang terbuat dari prana atau kekuatan vital/ energi.

Mano maya kosa, lapisan yang terbuat dari Manah atau Pikiran.

Vijnana maya kosa, lapisan yang terbuat dari pengetahuan atau pengertian.

Ananda maya kosa, lapisan yang terbuat dari kebahagiaan (ananda).

Untuk catatan saat ini, hanya itu saja. Bagaimana pelaksanaan yang lebih mendalam dan penghayatannya, masih dalam perjalanan. Tapi mungkin bisa diberi suatu contoh disini (tentang dua dari lima lapisan di atas), seperti apa yang ada di buku-buku atau yang sering diceritrakan para yogi : seseorang bisa mencapai keadaan Samadhi bila ia lepas dari pikirannya. Ketika ia berpikir setitik saja maka ia akan keluar ('dikeluarkan') dari keadaan Semadhi tsb. Demikian pula ketika ia menggunakan pengetahuan atau pengertian-pengertian yang didapat dari pelajaran di dunia fana, maka ia akan keluar dari Samadhi. Diperlukan kepasrahan total, dalam hal ini tidak mengikutkan pikiran dan pengetahuan kita, begitulah kira-kira.

.

12 Februari 2010

ETOS KERJA, Kutipan sana sini

Dari buku Jansen Sinamo

1.
Kerja adalah Rahmat atau Anugrah maka aku harus bekerja tulus penuh syukur.
2.
Kerja adalah Amanah atau Tugas maka aku hrs bekerja benar penuh tanggung jawab.
3.
Kerja adalah Panggilan maka aku harus bekerja tuntas penuh integritas.
4.
Kerja adalah Aktualisasi diri maka aku harus bekerja keras penuh semangat.
5.
Kerja adalah Ibadah atau Yadnya maka aku harus bekerja ikhlas penuh kecintaan.
6.
Kerja adalah Seni maka aku harus bekerja cerdas penuh kreatifitas.
7.
Kerja adalah Kehormatan maka aku harus bekerja tekun mencapai keunggulan mutu.
8.
Kerja adalah Pelayanan maka aku harus bekerja dengan ramah penuh kerendahan hati.

1.
Rahmat artinya anugrah yang kita terima tanpa syarat. Biasanya itu berarti pemberian dari Tuhan karena kasih sayangnya. Kerja sudah jelas merupakan suatu anugrah juga. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya kita tidak punya pekerjaan. Maka dari itu kita harus mengusahakan agar semakin hari pekerjaan kita semakin baik. Jangan sampai kita malah kehilangan pekerjaan kita karena kelalaian kita sendiri. Bila perlu kita pindah kerja ke tempat lain bila ada peluang yang lebih baik. Dan karena kerja merupakan suatu anugrah maka kita agar selalu bersyukur dan bekerja dengan tulus serta senantiasa menjaga agar suasana hati selalu gembira dalam bekerja. Jangan sering ngedumel (ngeremon), bersungut-sungut atau bermalas-malasan.

2.
Amanah atau Kewajiban dapat diartikan suatu tugas berharga yang dititipkan pada kita berdasarkan kepercayaan yang disandarkan di atas diri kita. Misalnya: anak kita merupakan amanah. Dalam hal ini Tuhan telah mempercayai kita untuk dititipkan seorang (atau beberapa) manusia yang merupakan anak kita. Kewajiban kita terhadap anak adalah memelihara dengan penuh tanggung jawab dan mendidik dengan baik sehingga manjadi anak yang mandiri ketika dewasa dan menjadi seorang suputra.
Demikian pula dengan kerja, yang tak lain adalah amanah. Orang yang diberi suatu pekerjaan atau suatu jabatan adalah amanah. Maka perlu disadari karena kita telah dipercayai dititipkan suatu tugas untuk diselesaikan maka kita harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab.
Intinya adalah, kerja adalah amanah atau kewajiban atau komitmen maka kita harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab.

3.
Setiap orang terlahir ke dunia dengan sebuah panggilan hidup yang spesifik. Panggilan ini dijawab, dijalani dan dilakoni melalui profesi kerjanya masing-masing. Disebut juga swadharma. Ingkar atau lari dari swadharmanya berarti bersikap pengecut dan lalai. Kerja sebagai panggilan atau swadharma harus dikerjakan sampai lengkap tuntas dan penuh integritas (jujur dengan apa yang dipikirkan, dibicarakan dan dilaksanakan, ketiganya selaras).

4.
Aktualisasi diri adalah pengembangan dan peningkatan potensi dari masing-masing insan. Hal ini hanya dapat dicapai melalui pengerahan energi kerja dan energi pikir yang dilaksanakan dengan konsisten yang mana nantinya menghasilkan kompetensi diri kita yang semakin hari semakin tinggi. Selalu berusaha menggali potensi yang maksimum dari diri kita masing-masing.
Maka kerja sebagai sarana aktualisasi diri, menyadarkan kita untuk selalu bekerja keras penuh semangat. Dengan selalu bekerja keras, dapat dipersamakan dengan atlit yang giat berlatih untuk mencapai lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat. Kalau kita selalu kerja keras otomatis menjadikan kompetensi diri kita selalu meningkat.

5.
Dalam melakukan kerja, harus kita sadari bahwa itu merupakan yadnya atau ibadah. Sebab kerja apa pun yang kita lakukan, ujung-ujungnya sekali adalah pelayanan untuk Tuhan. Maka kita harus bekerja dengan ikhlas, menghayati apa yang dikerjakan, dan bekerja penuh kecintaan karena terbayangkan toh akhirnya Tuhan jua titik akhir dari hasil pekerjaan kita menuju. Bahkan lebih ekstrim dinyatakan dalam Bagawad Gita bahwa bekerjalah dengan ikhlas tanpa mengharapkan hasil. Tapi dapat dimaklumi kalau di jaman sekarang hanya satu dua orang yang mampu menghayati anjuran Gita tsb.
Yang penting ingat bahwa kerja adalah yadnya, maka kita akan bekerja dengan serius penuh penghayatan, serta penuh kecintaan. Hasil daripada itu pasti akan menyusul secara otomatis.

6.
Adalah kenyataan bahwa kerja adalah suatu seni. Seseorang yang dapat menciptakan seni cara bekerja maka ia akan bekerja sangat effisien dan efektif. Diharapkan selalu kreatif mencari terobosan yang cerdas untuk mengantisipasi masalah-masalah dalam pekerjaan.
Gairah kerja akan merangsang kreatifitas guna mengupayakan seni bekerja yang cerdas. Dari mana memperoleh gairah kerja? Sebagai berikut : Ingatlah bahwa,
• Hasil pekerjaan adalah buah manis yang memuaskan dan menyenangkan hati.
• Pekerjaan merupakan suatu status sosial dan suatu respek.
• Pekerjaan memberikan identitas psikis yang penting. Misalnya : Nama saya Rani dari Bank Permata. Nama saya Dimitri, saya seorang arsitek. Nama saya Edu, saya kuliah di Universitas Udayana.Dst.
• Pekerjaan membuat kita mempunyai aktifitas pola teratur, sehingga tersedia kesempatan untuk tenggelam dalam keasyikan yang produktif. Hidup jadi tidak membosankan. Kadang ada sense of power karena kita in-charge atas sesuatu.
• Pekerjaan sering menjelma seperti tantangan yang akan membuat kita merasa puas kalau berhasil menyelesaikannya atau mengalahkan tantangan tsb.
• Pekerjaan sering menjadi sumber kegembiraan berhubung disana kita dapat menjalankan kreatifitas hasil pemikiran kita.
• Maknai aktifitasmu (ketahuilah makna dari aktifitas yang engkau lakukan) maka akan engkau lakoni dengan penuh antusiasme.

Gairah dan antusiasme fisik dapat dicapai dengan :
• Tampilkanlah postur badan yang antusias, badan ditegakkan.
• Bertindaklah dengan antusias maka engkau akan merasa antusias. Berbicaralah lebih keras, berjalanlah lebih cepat. Bergeraklah dengan tangkas.
• Bekerjalah dengan tempo lebih tinggi, maka niscaya antusiasme akan merembes dari dalam hatimu ke luar.
• Bukan mengerjakan apa yang kita suka, melainkan menyukai apa yang harus kita kerjakanlah yang membuat hidup kita bahagia.



7.
Kerja adalah kehormatan. Maka jangan bekompromi dengan mutu yang rendah, sebab akan menghilangkan rasa hormat diri (self respect) atas keprofesionalan kita sendiri. Dan untuk mencapai keunggulan mutu, ketekunan kerja adalah kuncinya. Keunggulan harus dipandu dengan visi yang dahsyat. Berfokus pada pemuasan pelanggan. Pekerjaan kita akan lebih dihormati kalau kita mencapai prestasi yang tertinggi.

8.
Manusia adalah makhluk mulia. Predikat mulia diperoleh ketika kita melakukan pelayanan. Orang yang bisa melayani orang lain pastilah orang yang rendah hati. Pada saat melayani, orang akan merasakan kebahagiaan yang sejati.
Kerja adalah pelayanan maka kita bekerja dengan ramah penuh rasa bahagia dan rendah hati.

T a m b a h a n :
Jika sukses memang bermakna maka seharusnya kita bahagia. Jika itu tidak membuat bahagia, mungkin :
Kita terlalu saintifik dan kurang intuitif
Kita terlalu matematik dan kurang artistik
Kita terlalu rasional dan kurang imajinatif
Kita terlalu deduktif dan kurang induktif
Kita terlalu analitik dan kurang sintetik
Kita terlalu spesialistik dan kurang holistik
Kita terlalu deskriptif dan kurang puitis
Kita terlalu linear dan kurang inovatif
Kita terlalu banal dan kurang reflektif
Kita terlalu material dan kurang spiritual
Kita terlalu maskulin dan kurang feminim.

Sukses sejati hendaknya memenuhi 6 syarat :
1.Murni. Sukses yang benar semestinya murni, pertama dalam dunia moral-spiritual, kemudian dunia mental-psikologis, dan sosial-politik. Sukses semu, karena kepalsuannya, cepat lambat akan tamat dengan tragis.
2.Lengkap. Sukses yang benar semestinya mencakup semua dimensi kehidupan. Sukses yang parsial, karena ketidak seimbangannya, akan bubar sendiri.
3.Menumbuhkan. Sukses yang benar semestinya menumbuh kembangkan manusia.
4.Membebaskan. Sukses yang benar semestinya membebaskan manusia dari kebodohan, menghasilkan kemerdekakan berpikir, proaktif dan kreatif.
5.Memperbarui. Sukses yang benar semestinya mampu memperbarui manusia menuju tingkat tertinggi evolusi mental spiritualnya.
6.Mebahagiakan. Sukses yang benar semestinya memdatangkan sukacita dan ketentraman bathin.

Sekali lagi mengenai 8 Roh Keberhasilan suatu organisasi :
1.
Roh kebaikan (the spirit of goodness). Baik disini berati bermanfaat dan bersifat membangun. Organisasi sukses selalu dimotivasi untuk menawarkan kebaikan, menghasilkan produk yang bermanfaat. Pada tingkat personal, hatinya senang atau berbahagia kalau berbuat baik. Secara religius dia merasa banyak menerima kabaikan, kemudian merasa bertanggung jawab untuk memberi banyak kelimpahan pula. Lawannya adalah roh miskin dan pelit. Orang begini selalu merasa kekurangan, dan karenanya tidak punya sesuatu untuk dibagikan, walaupun sebenarnya kaya raya. Bukan masalah jumlah tapi soal kondisi mental atau state of mind.

2.
Roh keterpercayaan (the spirit of trustworthiness). Roh ini terbentuk melalui kesadaran bahwa kita telah dipercaya untuk menerima dan mengelola hal-hal yang baik dan berharga. Maka selalu mempertahankan kepercayaan ini, memperbesar dan memperluasnya. Lawannya adalah roh ketidak pedulian, sikap seenak perut dan sembarangan.

3.
Roh pengabdian (the spirit of dedication). Roh pengabdian adalah semangat yang memdorong kita berkomitmen pada misi dan tujuan yang kita anggap luhur dan bermakna. Dilihat dari luar maka kita tampak tekun dan penuh loyalitas. Lawannya adalah roh setengah hati, tanggung, antara sungguh-sungguh dan main-main. Mau sih mau tapi tidak bekerja total all out. Bersedia sih bersedia tapi suka menunda-nunda.

4.
Roh pertumbuhan (the spirit of growth). Selalu mendambakan kemajuan dan pertumbuhan kearah lebih baik. Progres selalu positif. Lawannya roh kemalasan. Enggan bekerja keras tapi ingin mendapat hasil besar.

5.
Roh cinta (the spirit of love). Cinta ini didorong rasa sukacita dan welas kasih untuk memberi secara tulus, bebas pamrih untuk diri sendiri. Lawannya adalah roh ketakutan, takut miliknya atau benda-bendanya sampai berkurang.

6.
Roh estetika (the spirit of beauty). Kerinduan manusia pada sesuatu yang bernilai seni, selain untuk menikmati keindahan buat dirinya sendiri, juga untuk memperindah kehidupan ini. Kita telah mengenal beberapa empu seni atau maestro dunia yang telah mempersemabahkan karya agung. Lawannya adalah roh destruksi, perusak. Kadang karena tidak mampu menyumbangkan sesuatu yang indah, maka justru merusak yang sudah ada dengan tega.

7.
Roh keunggulan (the spirit of excellence). Unggul berarti yang terbaik di kelasnya. Sesungguhnya inilah dambaan aspirasi jiwa yng sehat. Lawannya adalah roh cepat puas ala kadarnya. Asal jadi asal bikin.

8.
Roh penatalayanan (the spirit of stewardship). Sebuah kesadaran penuh yang dengan rendah hati selalu rela dan suka melayani. Ingin pelanggan selalu terpuaskan, terbahagiakan. Lawannya adalah roh arogansi. Bersikap seperti tuan besar, ingin selalu dilayani, lalai pada layanan profesi.


23 September 2009

PIKIRAN DAN KESADARAN

TINJAUAN PENDEKATAN TERHADAP ATMAN. YANG MANAKAH EKSPRESI ATMAN: PIKIRAN ATAU KESADARAN?

Kita tak bisa menangkap eksistensi Atman seperti eksistensi badan. Di alam fisik/ sekala yang kasat mata, badan terlihat nyata dan bisa disentuh. Tidak demikian halnya dengan Atman yang 'terletak' di alam niskala. Untuk itu perlu suatu pendekatan agar kita bisa lebih menghayati keberadaan Atman. Pendekatan yang akan dilakukan adalah dengan berusaha menangkap ekspresinya dari Atman saja.

Pikiran dan Kesadaran, sebagai benda abstrak yang berada di alam niskala, adalah merupakan suatu ekspresi. Tetapi hanya satu dari dua hal tersebut yang merupakan ekspresi sejati dari Atman, yakni Kesadaran. Pikiran bukanlah ekspresi dari Atman. Memang bedanya sangatlah tipis. Bagaimana penjelasan selanjutnya?

Atman adalah bagian dari Brahman. Atman merupakan roch suci yang sejatinya bagian dari Tuhan Yang Maha Suci. Maka ekspresi yang sesuai bagi Atman adalah Kesadaran, yang merupakan inti pikiran sejati yang selalu mempunyai tujuan suci. Kesadaran itu bagaikan 'pikiran di atas pikiran'. Kesadaran berfungsi mewaspadai pikiran kita. Kesadaran dapat dilatih untuk memantau pikiran. Mengapa pikiran perlu dipantau?

Karena pikiran kita sangat liar, tidak bisa tenang diam. Dalam beberapa kitab Hindu, pikiran diandaikan monyet. Kapan- kapan bila Anda melihat monyet (di kandang tetangga atau di kebun binatang) maka perhatikanlah tingkah lakunya. Anda akan melihat bahwa dia memang tidak bisa diam tenang. Monyet mampu diam hanya 2-3 detik lalu loncat sana loncat sini lagi, persis pikiran kita. Coba pantau dan teliti pikiran Anda sendiri, maka Anda akan sadari bahwa Anda memikirkan satu hal dan meloncat memikirkan hal lain dalam hitungan detik. Lagi pula, pikiran berpindah- pindah 'waktu' dengan mudahnya. Bisa berada dalam masa lalu memikirkan kenangan (yang menyenangkan atau menyedihkan), sedetik kemudian meloncat memikirkan masa depan berupa keinginan atau rencana, lantas loncat lagi tanpa terkendali ke masa kini (misalnya: wah dingin duduk di luar sini, saat ini anginnya cukup keras. Tidak seperti kemarin ketika ngobrol dengan si Amat. Lalu pikiran pindah pada Amat yang begini begitu dst).

Demikianlah liarnya pikiran. Maka kemudian ada istilah: berlatih mengendalikan pikiran. Apa yang dipergunakan untuk mengendalikannya? Ya, Kesadaran. Seperti apa Kesadaran itu? Anda pasti pernah mengalami Kesadaran yang muncul sekejap- sekejap yang memperingati Anda ketika tindakan, bicara atau pikiran yang Anda lakukan kurang benar. Mungkin banyak istilah yang sesuai untuk hal ini, bisa disebut: kata hati nurani, bisikan indera keenam, bisikan malekat dll. Menurut pendapat saya hal-hal semacam ini merupakan ekspresi dari keberadaan Atman. Kesadaran, sebagai ekspresi Atman, membisiki kita, memberi peringatan dan mengarahkan pada tindakan yang benar, jujur dan suci.

Lalu bagaimana caranya meningkatkan kesadaran dan mengendalikan pikiran? Seorang teman menganjurkan 3 cara pada saya yang awam sebagai berikut:
Pertama, jangan sering mengabaikan Kesadaran yang muncul sekejap- sekejap tersebut. Malahan sebaliknya Anda harus sengaja memperhatikannya dan mempertimbangkannya.

Kedua, ambil waktu kapan saja yang Anda suka dan secara periodik pantau pikiran anda. Anggap saja diri Anda terdiri dari dua orang. Yang satu melakukan aktifitas berpikir biasa, orang yang satu lagi memantau apa yang dipikirkan. Intinya, Anda berusaha sadar atas apa yang sedang Anda pikirkan. Sekali- sekali kendalikan pikiran Anda untuk tidak memikirkan apa-apa. Dan pantau apakah Anda mampu melakukannya? Bila Anda mampu tidak memikirkan apa-apa selama setengah menit saja, berarti Anda mulai bisa mengendalikan pikiran Anda.

Ketiga, perlu disadari bahwa pikiran bisa loncat ke berbagai waktu dan berbagai tempat (ketika badan ada di rumah, pikiran bisa berada di sekolah, sedetik kemudian loncat lagi berada di suatu pantai yang merupakan kenangan dst). Tetapi badan Anda saat ini, hanya bisa ada disini saja (di tempat Anda berada). Badan Anda tidak bisa kembali ke 'dalam waktu' sejam yang lalu, atau berada 'didalam waktu' dua menit yang akan datang. Sehingga Kesadaran sangat diperlukan untuk menyelaraskan segala pikiran Anda dengan keberadaan badan di alam sekala yang demikian.

16 September 2009

BEKERJA TANPA MENGHARAPKAN HASIL

DALAM BAGAVAD GITA KITA DIANJURKAN BEKERJA TANPA MENGHARAPKAN HASIL, APAKAH ITU MASUK AKAL?

Apakah bisa, kita bekerja tanpa mengharapkan hasil? Padahal sebelum tergerak untuk melaksanakan kerja, kita sudah merencanakan aktifitas itu lengkap dengan bayangan hasil yang akan dicapai. Bagaimana agar kita bisa mempraktekkan filsafat tersebut dalam bekerja sehari- hari? Apakah menyenangkan bila kita bekerja tanpa mengharapkan hasil?

Menurut saya harus ada beberapa keyakinan yang mendukung untuk dapat berpikir seperti anjuran filsafat di atas. Ada 3 hal yang saya anggap diperlukan. Pertama kita harus yakin akan kebenaran mutlak dari Hukum Karma Phala. Hukum ini merupakan bagian dari filsafat Hindu: Panca Sraddha, yang artinya 5 hal yang harus diyakini.

Kita harus yakin perbuatan baik akan menghasilkan buah perbuatan yang baik pula, perbuatan jelek menghasilkan sesuatu yang jelek yang akan ditimpakan pada kita. Kalau hukum ini sudah menjadi keyakinan yang mendarah daging maka anjuran 'tanpa mengharapkan hasil' akan menjadi mudah dilaksanakan. Nanti akan ditinjau prosesnya.

Yang kedua, kita harus yakin bahwa kita sebagai mikrokosmos (bhuwana alit) merupakan bagian yang menyatu dengan makrokosmos (bhuwana agung). Di alam dunia fisik (sekala), badan fisik kita tersusun dari unsur Panca Maha Bhuta yang sama dengan benda- benda fisik lainnya di alam raya (baik benda hidup maupun benda mati). Di alam non fisik (alam niskala), roh suci kita (Atman) merupakan bagian dari, dan berasal dari Tuhan (Brahman) itu sendiri.

Intinya, mikrokosmos dan makrokosmos sebenarnya tidak ada batasnya. Hanya karena kita masih punya banyak pahala buruk, maka kita tidak bisa menyadarinya. (Konon bila kita mampu menghapus pahala buruk dengan terus menerus melakukan karma baik, maka kita bisa menembus batas itu dan memiliki kesadaran sejati untuk melihat langsung hubungan itu). Dalam hal ini, yang ingin disampaikan bahwa, energi macam apapun yang kita luncurkan melalui aktifitas yang kita lakukan, akan langsung diterima alam raya/ makrokosmos dengan reaksi energi yang sepadan. Tidak ada batas bagi energi perbuatan/ karma. Siapa pun tidak bisa menghalangi laju energi- energi dari hasil aktifitas kita berpikir, berkata dan berbuat, ke dalam alam raya.

Yang ketiga, menyangkut hal yang lumrah dan duniawi bahwa, keinginan yang tidak tercapai akan mengakibatkan kekecewaan bahkan kesedihan atau perasaan sengsara. Tentu merupakan hal yang ingin dihindari oleh semua orang.

Nah, bagaimana kira-kira alur pikir yang perlu dipedomani sehingga kita bisa bekerja tanpa mengharapkan hasil? Ketika kita bekerja, tentu akan mengerjakan sesuatu yang baik (karena yakin dengan Hukum Karma Phala) dan cobalah lihat dengan imaginasi kita butir-butir energi dari aktifitas kita melayang ke alam raya. Kita asik saja bekerja karena kita yakin alam semesta (sekala dan niskala) akan memberikan reaksi energi yang sepadan, apa pun itu bentuknya. Walaupun bentuk reaksinya mungkin tidak seperti yang kita rencanakan semula, yang pasti itu nilainya sepadan.

Misalnya, ketika Anda mengharapkan hasil kerja itu berupa mobil, entah bagaimana Anda terima dalam bentuk emas. Ketika Anda merencanakan hasilnya berupa emas, mungkin yang Anda dapatkan justru kesembuhan dari suatu penyakit yang sejak lama Anda derita, atau yang Anda peroleh sebuah perasaan bahagia karena lebih dicintai oleh orang-orang disekeliling Anda. Hal demikian memang tetap jadi misteri bagi manusia. Dan justru misteri yang tidak bisa diduga itulah yang membuat hidup lebih hidup. Tetapi kalau hidup Anda selaras dengan Hukum Kehidupan Alam Raya, maka energi kerja Anda akan diterima dengan reaksi dalam bentuk- bentuk hasil persis seperti yang Anda rencanakan. Yakni hasil seperti yang Anda tanamkan dalam visi ('bentuk' dalam imaginasi) Anda.

Setelah mengetahui seluruh jalan ceritera di atas, maka daripada menginginkan hasil dalam bentuk pasti seperti yang Anda rencanakan semula, lebih baik Anda lakukan saja kerja tersebut sambil tidak mempedulikan harapan akan hasilnya. Anda bisa mengabaikan hasilnya karena Anda yakin seyakin-yakinnya Anda akan tetap memperoleh 'hasil yang sepadan'. Maka hal ketiga di atas tidak akan terjadi (kekecewaan karena tidak mendapat hasil). Karena Anda tahu sebenarnya Anda sudah memperoleh 'hasil dengan nilai yang sepadan' dari kerja Anda, cuma kadang- kadang tidak terlacak dalam bentuk apa.

Memang sebelum kerja, rencana kerja dan target hasil yang terukur tetap diperlukan untuk memperkuat visi Anda. Tetapi begitu masuk ke dalam kerja itu sendiri, Anda dengan ringan dapat 'melupakan' target hasil tersebut. Yang diperlukan hanya keyakinan bahwa Anda pasti mendapat hasil yang sepadan. Selebihnya serahkan pada kekuasaan Alam Raya yang misterius.

Dan apakah masalahnya yang ada pada kita? Masalahnya apakah Anda yakin 1000% (seribu persen) terhadap Hukum Karma Phala? Untuk saya, saya sangat bersyukur karena sejak diajar agama di Sekolah Dasar saya yakin pada Hukum Karma Phala. Keyakinan ini banyak berjasa dalam mengendalikan hidup saya. Dan itu bukan hal spesial, karena sudah sewajarnyalah bagi setiap orang Hindu. Demikian pula ajaran tentang Brahman - Atman, Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, sudah sewajarnya dipahami oleh tiap orang Hindu.

15 Juni 2009

CARA BERKOMUNIKASI EFEKTIF DAN PERSUASIF

TIGA KEMAMPUAN KOMUNIKASI YANG BISA MERUBAH SEGALANYA.

"Saya kini mengerti dan kemudian menggunakan tiga teknik ini yang merubah saya menjadi komunikator yang efektif dan persuasif. Saya yakin ini juga bermanfaat bagi anda", demikian kata Steve Scott seperti yang ia sampaikan di www.stevenkscott.com

Tak ada satu pun kemampuan sepenting komunikasi untuk kesuksesan dan kebahagiaan kita. Merupakan kunci pribadi demi perkembangan profesional kita. Komunikator yang efektif tahu cara meraih perhatian pendengar yang tak terbagi, memegang perhatian itu, agar pendengar menangkap dengan jelas apa yang sedang disampaikan, dan menanamkan secara emosional hal itu pada pendengar.

3 Teknik untuk menjadi Master Persuasif komunikator :
1. Mengkait
2. Menggarami
3. Kata-kata yang menimbulkan gambar emosional.(EWP)

MENGKAIT. Pertama kaitlah perhatian pendengar anda agar perhatiannya tidak terbagi. Kait itu berupa sebuah pernyataan yang kuat, referensi pribadi, atau sebuah pertanyaan spesifik yang dilempar pada permulaan komunikasi. Kait ini akan langsung membawa pendengar ‘ke dalam’ percakapan. Komunikasi awal kita harus mengandung salah satu dari unsur kait itu. Mengandung dua unsur akan lebih baik lagi. Misalnya pertanyaan awal penjual shamppo kepada para wanita:
‘Setiap kali di depan cermin dan melihat rambut anda, tiba-tiba anda ingin menangis?’

MENGGARAMI. Sekali anda memperoleh perhatian yang tak terbagi dengan kait awal, anda wajib meneruskan perhatian mereka tetap terfokus. Karena perhatian orang biasanya mulai menurun 10 atau 20 detik. Maka disinilah perlunya ‘menggarami’ itu.

Ada pepatah: ‘Anda bisa menyeret kuda ke air, tetapi anda tak bisa memaksanya minum’. Ini tidak sepenuhnya benar, karena kita bisa membuatnya minum asal sebelumnya kita beri dia garam di mulutnya atau dimakanannya sehingga kuda itu haus.

Misalnya pernyataan: ‘Ada 3 hal yang menyebabkan para lelaki meninggalkan istrinya’. Maka para wanita jadi ‘haus’ mendengar kelanjutan selengkapnya karena sudah digarami dengan ‘ada 3 hal’ yang diucapkan sebelumnya. Jadi kita ‘menciptakan keingintahuan/ rasa penasaran tentang yang akan kita katakan sebelum kita mengatakannya.

KATA-KATA YANG MENIMBULKAN GAMBAR EMOSIONAL. Ini tentang bagaimana menciptakan kata-kata yang memberi gambar hidup didalam pikiran orang, dan gambar yang menyentuh perasaan pula. Kata-kata ini akan membuka dan masuk pada pikiran orang, sekaligus masuk ke perasaannya.
Kata Gambar Emosional, bisa berfungsi karena :
1. Seperti Kait, ia langsung bisa meraih perhatian seseorang.
2.Punya kekuatan merubah pikiran dan keyakinan seseorang.
3.Memberi nafas hidup pada sebuah percakapan.
4.Menghubungkan seseorang pada referensi memorinya, suatu saat dalam kehidupannya
5.Sebagai pintu memperkuat hubungan karena pendengar bisa merasakan parasaan anda
6.Dapat mengkritik karakter orang tanpa repons negatif krn terasa lebih halus.
7.Merupakan metode ampuh yang mensinergikan hubungan otak kanan dan kiri orang.

Menciptakan Emotional Word Pictures dengan 6 langkah :
1.Ambil suatu setting waktu yang diperuntukkan bagi hal yang ingin kita ceritakan.
2.Pikirkan interes dari pendengar (apa kira2 yang dianggap menarik).
3.Cari hal yang berhubungan dengan pendengar, mis: masa sekolahnya, hobi, hal2 yang dikenal baik, tempat pikniknya dll.
4.Berlatihlah memakai EWP sebelum anda berbicara pada seseorang.
5.Aturlah lama berbicara dan komunikasilah dgn tenang menggunakan EWP
6.Jangan overusing EWP, pakailah dengan soft

P r a k t e k k a n Kait Garami dan EWP, ditambah dengan kemampuan komunikasi yang persuasif harus mengandung 3 Humanity’s Greatest Motivating Factors, yaitu :
1. Keinginan berkembang dan memiliki sesuatu.
2. Rasa takut kehilangan.
3. Kebutuhan mencintai dan dicintai.

Perhatikan fondasi dari komunikasi yaitu ‘menghargai dan menghormati’ yang kita ajak bicara-dalam sikap, kata yang kita pilih dan cara penyampaiannya. Perhatikan juga ‘lama waktu presentasi, puaskan kebutuhan pendengar akan informasi, jasa dan produk’.

Rahasia terakhir dari kemampuan dalam berkomunikasi memakai segala bahan diatas secara terstruktur pada sebuah presentasi diatur Secara keseluruhan sbb:
1.Pastikan anda menghargai dan menghormati pendengar tanpa nada mengajari.
2.Kalau memungkinkan masukkan satu atau lebih Greatest motivating Factors.
3.Buat presentasi mengikuti struktur berikut :
a.buat pembukaan yang langsung meraih perhatian dengan KAIT yang kuat. Gunakan EWP bila memungkinkan.
b.Jelaskan permasalahan dan idea/ produk milik anda untuk mengatasi masalahnya.
c.Garami sesering yang anda butuhkan bagi penjelasan anda agar perhatian tak terbagi.
d.Pakai EWP pada point penting agar jelas dan tak terlupakan. Ungkapkan keuntungan produk/ idea anda sebagi tujuan keseluruhan dari presentasi anda.
e.Pakai bukti dan testimoni dari orang2 yang terpuaskan.
f.Bandingkan dengan idea/ produk lain dan ungkapkan kelebihan produk anda.
g.Tutup pembicaraan dengan kesimpulan singkat, dan ajak segera mengambil keputusan agar membeli produk.

Komunikasi Persuasif adalah alat yang paling bisa membuka pintu pikiran dan perasaan orang dibanding perangkat lain yang anda miliki. Ini hal yang bisa dipelajari dan dilatih. Tidak harus punya bakat. Semakin dipakai maka kemampuan komunikasi akan semakin anda kuasai.
Silahkan anda lihat selengkapnya di www.stevenkscott.com